Bukankah ini khianat ? Ummat berhak tahu bahwa Syaikh Ali Hasan – murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah- dan masyayikh lainnya telah mentahdzir Jum’iyyah Ihya’ut Turats dan Al-Haramain sebagai yayasan hizbiyah yang berbahaya. Dan bolehnya bermuammalah hizbiyyah dengan mereka oleh Syaikh Ali diberi syarat-syarat yang tidak akan mungkin dapat kalian penuhi.
Sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Yunus – seorang mantan da’i al Sofwa dari Makassar yang melawan kebijakan At Turats sendiri - di Jember pada tanggal 2 Januari 2004 “Ketika ditanyakan kepada Syaikh Ali, maka Beliau memberikan tahqiq komentar apa yang disebut Syaikh (Salim Al-Hilaly) tadi bahwa mereka tidak punya syarat maka perlu dilihat; kata Syaikh : ”Ini hampir mustahil bahwa mereka sekarang tidak memberikan syarat, tapi mereka melihat ke depan dan menjadikan kalian tidak bisa lepas dari mereka!” Setelah itu Syaikh memberikan syarat-syarat untuk bermuammalah (hizbiyyah-pen) dengan mereka, yaitu bahwa kehadiran kita- sikap kita tetap tegas terhadap hizbi. Kedua, kehadiran kalian ke sana bukan merupakan tazkiyah terhadap hizbiyyin. Maka ini jelas sesuatu yang tidak mungkin terpenuhi syarat (dari-pen) Syaikh Ali”.
Ibnu Yunus melanjutkan : “Maka inipun tidak mereka angkat dan mengatakan:”Itu khan Syaikh Ali yang berfatwa, kita tidak taqlid kepada Syaikh Ali!” Menurut para sanad itu yang saya dengar dari Aunur Rafiq! Para sanad perawi dari Abdullah Amin. Jadi mereka masih membela “mentatbiq” mauqif mereka pada yayasan hizbiyyin ini. Jadi ikutnya daurah mereka setelah ini tidak berguna, kenapa? Karena mereka tetap mengatakan ini fatwa, bisa diambil bisa tidak. Kalau begini, ini bahaya. Kapan kita ber… pada para ulama? Seorang ‘alim diikuti karena dalilnya. Ini rupanya yang masih ada pada mereka. Saya mengatakan bahwa yang paling parah adalah Abu Nida’, kemudian Aunur Rafiq (Al-Furqan Gresik) dengan pembelaannya yang terakhir. “
Ibnu Yunus melanjutkan : “Kemudian Abdurrahman At Tamimi –Abdullah Amin yang lebih tahu- karena adanya mauqif tentang masalah Kediri, dimana Kediri sudah siap untuk lepas dari Ihya’ut Turats…. dan teman-teman sudah berusaha, kemudian Masrukin masuk (baca:Majruhin - kaki tangan Aunur Rafiq, dia pernah mencoba masuk Universitas Islam Madinah dengan memalsukan umurnya – biar awet muda?- Lolos di Indonesia dan sungguh tragis, kedoknya terbongkar di Madinah sehingga dipulangkan tanpa sempat duduk “merasakan” bangkunya Jami’ah. Tapi lumayan bisa naik pesawat gratis PP Indonesia-Saudi-pen) dan mengeluarkan Masrukin sebagai ketua. Tetapi kemudian mendatangkan Aunur Rafiq, bahkan setelah itu datang beberapa ustadz dari Surabaya. Maka di situ dia berbicara dan saya tidak tahu apa yang dibicarakan, tetapi intinya mereka masih membela (Ihya’ut Turats) dan mengaburkan perkataan Syaikh Ali di daurah….”.
Wahai hizbiyyun yang suka berubah-ubah warna kulit, seperti bunglon, kenapa tidak kalian sebarkan kepada ummat fatwa penting ini di majalah dan internet kalian yang banyak itu agar ummat mendapatkan manfaatnya dan sekian banyak permasalahan akan selesai dengan sendirinya, biidznillah?
Janganlah anak-anak ingusan ini diajari akhlak buruk khianat ilmiah dan dusta !
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa…” (QS An Nisa 107)
Sementara engkau berceramah lagi : “ Mereka (para da’i ) salafiyyah ini tidak mencari kenikmatan dunia yang fana, tidak menginginkan kursi-kursi kekuasaan dan tidak pula bermain dalam hidangan politik, akan tetapi keinginan mereka adalah mendidik generasi dengan pendidikan Islam yang benar diatas dasar “tasfiyyah” (Pemurnian) dan “tarbiyyah” (Pendidikan) yang memurnikan pemikiran-pemikiran yang mencemari agama yang lurus ini “. (Pidato Sambutan Mudir Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya, Abdurrahman At Tamimi, tanggal 1-3 Juli 2004, di Markaz Al Imam Al Albani Jordania - dipublikasi oleh salafi.or.id - Hal 15)
Mana bukti ucapanmu ini di hadapan kurang lebih 1000 orang penuntut ilmu dari berbagai negara, wahai Abdurrahman ?
Inikah “Tasfiyyah” (pemurnian) dari fatwa-fatwa masyayikh yang dapat membongkar kedok hizbiyyah kalian ?
Inikah “Tarbiyyah” (pendidikan) “dustaiyyah” ya Al-Kadzab ?
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS Al Baqarah 9 – 10)
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa…” (QS Al Jatsiyah 7)
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,…” (QS Adz Dzariyat 10)
Wahai Abdurrahman At Tamimi ,
Apakah engkau tidak dapat mengambil faedah ilmunya Syaikh Ali Hasan ketika Beliau mensifati berbagai manhaj kelompok yang menyimpang? Kata Beliau: “Diantara mereka ada yang mudzabdzab (tidak jelas warnanya)… yang berbasa-basi dan tidak memiliki ketegasan dalam bersikap…”(Tashfiyah wat Tarbiyyah hal.8, dalam Al-Azhar Al-Mantsurah, Syaikh Abu Abdurrahman Fauzi Al-Atsari hal 53)
Apakah engkau tertidur ketika membaca halaman ini ? Ataukah engkau justru dapat mengambil pelajaran “berharga” betapa “berharganya” menjadi da’i pramuka, “disini senang, disana senang”? Satu kaki berpijak di atas dinarnya Al-Kuwaity dan kaki lainnya beralaskan dirhamnya Sururi?
Tetapi Syaikh Muqbil telah menasehatkan kepada salafiyyin agar waspada dan menghindari dari jenis dakwah komplotan mudzabdzab ini: “…Dakwah bagi kami lebih mahal daripada dirham dan dinar, saya nasehatkan kalian jangan suka mencoba-coba, terkadang bersama Ihya’ut Turats dan terkadang pindah ke Sururiyyun. Berdirilah di atas kaki sendiri dan beramalah dengan mengharap wajah Allah semata. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalanmu”(Tanya jawab dengan Syaikh Muqbil, hal.85).
Engkau menghendaki keselamatan
Tetapi tidak engkau tempuh cara-caranya
Sesungguhnya …..
Perahu layar tidak akan berjalan di atas daratan
Dari berita terakhir yang mereka sebarkan di situs hizbinya yang paling “gress” yaitu salafi.or.id tertanggal 02/09/2004 (Lihat! Betapa hizbiyyin-sururiyyin-turatsiyyin seperti kebakaran jenggot karena tipu muslihat dan kedok “dinar hizbiyyahnya” serta kehinaan dakwahnya terus diterangkan kepada ummat oleh salafy.or.id, sehingga mengharuskan mereka untuk membuat situs terbaru yang sama persis kecuali 1 huruf pembeda yaitu (i) hizbi pada kalimat “salafy”! Ingat bukan dengan kisah bani Israil dimana Allah firmankan “Hiththah” dan bani Israil mengubahnya menjadi “Hinthah”, ada tambahan 1 huruf (nun) yahudi!
Berita (Internet http://www.salafi.or.id/viewjawaban.php?pid=24) itu isinya adalah jawaban tentang bantuan Ihya’ut Turats Kuwait: ”Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya dan PP Al-Furqon Gresik, sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari Ihya’ut Turats dan ini adalah fitnahan dari orang-orang yang dengki dan iri. Adapun Pondok Imam Bukhari, benar yang engkau katakan, tapi perlu engkau ketahui bantuan itu tanpa ada tekanan atau persyaratan apapun…” Ini adalah talbis! Adapun kedustaannya dapat diketahui dari beberapa sisi:
a. Kalian telah berdusta atas nama Syaikh Ali dimana Beliau memberikan persyaratan yang tidak mungkin dapat kalian penuhi dan syarat itu tidak kalian sebutkan pada jawaban ini!
b. Ucapan kalian:”Ini adalah fitnahan dari orang-orang yang dengki dan iri”. Inipun alasan dusta! Sebab bisa jadi (dulu) diantara salafiyyin pernah mendapatkan jasa baik kalian dalam masalah duniawi. Diantara kita dulunya bahkan banyak yang berkawan dan bersahabat. Perpecahan mulai terjadi setelah datangnya dinar hizbiyyah itu, setelah adanya fatwa Ulama Ahlusunnah, setelah adanya nasihat pewaris Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Dalam masalah ini, apalah artinya tuduhan dengki? Dan justru hal ini sebagai hujjah terhadap kalian bahwa permusuhan dan peperangan ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi selain manhaj hizbi kalian!
Adapun “iri”, tentu saja “jauh panggang dari api”, karena engkau tentu paham sekali bahwa ustadz-ustadz kami (sebagiannya) adalah mantan tentara-tentara bayaran Ihya’ut Turats dengan “jaminan ini dan itu”! Dan hanya semata karena hidayah dan pertolongan dari Allah sajalah mereka dapat meninggalkannya dan berlepas diri dari organisasi hizbiyyah sesat yang “sangat menjanjikan itu”! Alhamdulillah.
Adapun kalian? Berapa banyak lagi diantara ustadz kami ditawari untuk menjadi da’i muassasah hizbiyyah lainnya (seperti Al-Haramain Foundation) dengan jaminan fasilitas hidup (yang dapat membikin hati tersentuh, air liur menitik deras keluar, dari manusia yang berjiwa kerdil) dan dengan tegas mereka menolaknya! Apakah kalian tidak bisa mengajukan alasan lain yang talbisnya “rada-rada ilmiah” selain kedua alasan ‘picisan’ ini - wahai Abdurrahman- ?
c. Tulisan kalian:”Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya dan PP Al Furqon Gresik sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari Ihya’ut Turats” Inipun dusta! Buktinya?
Kalian telah melakukan (kata orang sono) “Money Laundry Crime”, kejahatan pencucian uang yang disebut pula “penjahat berkrah putih”. Padahal jelas adanya upaya memutihkan/melegalkan “dinar hizbiyyah” dari kejahatan persekongkolan “mafioso hizbiyyah” yang kalian lakukan! Kalaulah penjahatnya lihai, tentu uang tersebut dimasukkannya (baca:dicucinya) di bank-bank resmi sehingga kejahatannya tampak lebih halus dan lebih tersamar.
Hanya saja karena kalian cara kalian masih amatiran, maka kalian mencuci “dinar hizbiyyah” itu di yayasan Al Sofwah, yang notabene juga hizbiyyah! Maka tidak mungkin “dinar hizbiyyah” itu berubah menjadi legal walaupun al Sofwa bermoto dan ber AD-ART seakan yayasan “salafiyyah” ?! Jelas, At Turats sebagai ‘god father’-nya, sementara Al Sofwa sebagai ‘big boss’ kalian ! Mayoritas bantuan Al Sofwa diperoleh dari Ihya’ut Turats, sebagian lainnya dikumpulkan dengan rekomendasi Salman Al-Audah Al-Quthbiy Al-Bannawy Al-Qaradhawy! Lebih jelas lihat Persaksian Ustadz Muhammad Sewed. Maka jawaban tersebut tidak lebih dari “tipu daya” kalian saja!
d. Al-Irsyad jelas-jelas bekerjasama dan menerima dana dari Ihya’ut Turats. Ini bukanlah fitnah karena iri dan dengki. Lihat situs kalian sendiri yang “ditangkap basah” oleh salafy.or.id sebagai berikut :
9.Nama file www.alirsyad.8m.net_mitra.HTM, berisi kerjasama PP Al Irsyad di dusun Butuh Tengaran Salatiga yang dikelola Yusuf Baisa dengan At Turats!
14.Nama file alirsyad2.bmp, screen shot situs PP Al-Irsyad kerjasama dengan Al-Sofwa, sengaja disimpan agar tidak dianggap fitnah karena info ini nyata dan bersumber dari PP Al Irsyad sendiri!
15.Nama file alirsyad3.bmp, screen shot situs PP Al Irsyad kerjasama dengan Ihya’ut Turats Kuwait, sengaja disimpan agar tidak dianggap fitnah karena info ini nyata dan bersumber dari PP Al Irsyad sendiri!
18. Nama file alirsyad3.bmp, screen shot situs PP Al Irsyad,mendoktrin dengan fikroh Yusuf Qardhawy Al-Bannawy, sengaja disimpan agar tidak dianggap fitnah karena info ini nyata dan bersumber dari Al Irsyad sendiri!
19.Nama file www.infoalirsyad.com_edisi53_index-8.html berisi kerjasama dengan Muhammad Al-Qahtani dedengkot At Turats Kuwait, kaki tangan At Turats hendak membantu membikin Islamic Centre, stasiun TV, pemberian VCD!
20.Nama file alirsyad.8m.net_Alumni_Alumni3.htm, berisikan alumni didikan PP Al-Irsyad Tengaran, nyata direstui untuk mendukung kepada lembaga pendananya, At Turats!
21.Nama file www.infoalirsyad.com_edisi58_index-16.html, berisikan dukungan resmi Al-Irsyad kepada PARTAI POLITIK Islam!!
(Simak Download Center, www.salafy.or.id/download.php, file alirsyad.zip)
Maka, sekarang anak ingusan ini memohon kejujuran pembaca sekalian, untuk menyimak kembali suara merdu yang mendayu-dayu dari lisan tuan Abdurrahman ini di Jordania : “Mereka (para da’i ) salafiyyah ini tidak mencari kenikmatan dunia yang fana, tidak menginginkan kursi-kursi kekuasaan dan tidak pula bermain dalam hidangan politik”! (Pidato Sambutan Mudir Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya, Abdurrahman At Tamimi, tanggal 1-3 Juli 2004, di Markaz Al Imam Al Albani Jordania - dipublikasi oleh salafi.or.id - Hal 15)
Bukankah dana hizbiyyah dan fikrah hizbiyyin adalah kenikmatan dunia yang hina dan fana? Dan bukankah dukung-mendukung partai adalah hidangan trik dan intrik permainan politik?
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia
ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al Kahfi 104).
Tentu pembaca akan sepakat dengan kami - anak ingusan yang bodoh ini - bahwa dengan kedua kenyataan di atas cukuplah bagi kita semuanya untuk mengantarkan “Beliau” ke singgasana juara “Berkicau Tingkat Internasional (BTI)”.
Setelah terjepit seperti ini, apakah engkau akan berkilah:”Itu kan Al-Irsyad, bukan Ma’had Ali Al-Irsyad, kami berbeda dan tidak ada hubungannya!”
Kami - anak ingusan lagi bodoh inipun - menjawab:”Berbeda nama, na’am. Tetapi tidak ada hubungannya? Tentu bukan engkau yang berwenang menjawabnya! Cholid Aboud Bawazer sebagai Pimpinan Wilayah Al-Irsyad Jawa Timur yang berhak menjawabnya. Hanya saja nama dia juga tercantum di majalah Adz-Dzakhiirah Ma’had Ali milik kalian sebagai penasehat. Jadi bukankah bukti di atas sudah merupakan jawaban sebelum Cholid ini menjawab?!
Apakah semata kebetulan bahwa nama Al-Irsyad ini sama dengan nama di belakang tulisan Ma’had Ali? Apakah suatu kebetulan juga jika Al-Irsyad didirikan oleh Ahmad Syurkati Al-Mu’tazili? Ingatlah kembali dengan pengakuan dan pujianmu terhadap Surkati dan Al-Irsyadnya : ”Dakwah Beliau meliputi seluruh negeri dan Beliau telah mencetak kader yang menolong dan membantu dakwah Beliau di seluruh jazirah Indonesia. Syaikh Ahmad As-Surkati terpengaruh dengan dakwahnya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Muhammad Rasyid Ridha –rahimahullah- beserta majalahnya ‘Al-Manar’. Beliau mengarang, mengajar dan membangun “MADRASAH AL-IRSYAD” pada tahun 1914 M” (Simak Pidato Sambutan Mudir Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya, Abdurrahman At Tamimi, tanggal 1-3 Juli 2004, di Markaz Al Imam Al Albani Jordania - dipublikasi oleh salafi.or.id - hal. 13-14). Engkaupun berceramah di Markaz Al-Albani bahwa Syurkati ini seorang lelaki shalih, reformis, menyeru kepada tauhid, mempersiapkan jalan untuk kepada dakwah salafiyyah yang murni. Apakah “Pondasi Jalan Dakwah Salafiyyah Yang Murni” itu dengan cara mendustakan berita Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Salam tentang datangnya Al Mahdi dan mendustakan turunnya Isa ‘Alaihissalam.? (Simak Pidato Sambutan Mudir Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya, Abdurrahman At Tamimi, tanggal 1-3 Juli 2004, di Markaz Al Imam Al Albani Jordania - dipublikasi oleh salafi.or.id - hal.14)
Engkau berdusta, wahai Abdurrahman…
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah pernah “mempengaruhi” Syurkati untuk mendustakan berita Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Salam tentang datangnya Al Mahdi dan mendustakan turunnya Isa ‘alaihissalam dan tidak pula mengajarkan demikian kepada siapapun!! Kalau engkau orang yang benar maka tunjukkan di kitab apa Ahmad As-Syurkati terpengaruh dengan dakwahnya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab yang mendustakan berita Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam?! Bukankah ini talbisul haq bil batil? Ataukah engkau salah ketik sehingga semestinya tertulis mempersiapkan jalan untuk kepada dakwah Salafiyyah yang dicemari aqidah sesat ! Atau mempersiapkan jalan untuk kepada dakwah mu’tazilah? Wallahul musta’an…
Bahkan yang lebih memperkuat hal ini adalah ucapanmu sendiri tentang Ahmad Syurkati : ”Hal-hal yang menyelisihi dan menyimpang dari aqidah Salafiyyah (Pidato Sambutan Mudir Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya, Abdurrahman At Tamimi, tanggal 1-3 Juli 2004, di Markaz Al Imam Al Albani Jordania - dipublikasi oleh salafi.or.id - hal. 14)”. Ucapanmu ini sebagai bukti bahwa “engkau telah membatilkan” ucapanmu yang sebelumnya (lelaki shalih dan seterusnya..)!! Inilah fakta yang menunjukkan jubah salafy gadungan yang engkau kenakan ternyata selemah sarang laba-laba. Walhamdulillah.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut 41)
Bangunan tidak akan berdiri melainkan di atas tiang-tiang
Bukanlah tiang bila tidak tegak di atas dasar yang kokoh!
Adakah kemurnian dan kesucian aqidah Salafiyyah dilandaskan kepada aqidah sesat?! Tentu saja ada perkecualiannya yaitu kaidah aqidah “made in” Abdurrahman At Tamimi Al-Kadzab!! Dengan rekor kedustaanmu yang bertumpuk-tumpuk ini, sungguh kami percaya dan yakin bahwa masih banyak lagi kesesatan-kesesatan orang ini yang sengaja engkau sembunyikan dari ummat!! Tetapi sampai kapan engkau dapat menutupinya rapat-rapat - wahai Abdurrahman - ? Rasa-rasanya (dengan ijin Allah ) upaya jahatmu ini tidak akan bertahan lebih lama lagi! Insya Allah !!
e. Adapun ucapanmu “bantuan itu tanpa ada tekanan” jelas ini adalah omong kosong, hisapan jempol belaka dan dusta 100%! Kalian perlu bukti ? Tentu ada …
Abu Mas’ud – seorang da’I yang dulunya bersama At Turats dan Al Sofwa - telah mengkritik hizbiyyahnya Ihya’ut Turats dan Al Sofwa Al-Muntada dan betapa berbahayanya muassasah hizbiyyah itu, imbalan apa yang dia dapatkan? Dikeluarkan dari Al Sofwa dan didepak oleh Aunur Rafiq dari Al Furqan Gresik! Inikah yang kalian katakan kepada penanyamu (yang bernama Nida di salafi.or.id, semoga dia bukan anak dari Abu Nida’ atau kalaupun benar semoga Allah melindungi dia dari kesesatan bapaknya! Amin) bahwa “bantuan itu tanpa ada tekanan”?!
Bahkan rekanmu sendiri, Sholeh Su’aidi, Rizky Abu Yahya, dkk berusaha melepaskan pondoknya di Kediri dari cengkeraman Ihya’ut Turats, hasil apa yang dia dapat? Sama pula nasibnya, angkat kaki dan kopor dari pondok itu akibat “unjuk giginya” Aunur Rafiq dan Abdurrahman At Tamimi Al-Kadzab!! Masih kurang buktinya? Tambah lagi.. Ibnu Yunus dituduh pula oleh komplotan “The Gangster of Dinar Hizbiyyah” mu sebagai pembuat fitnah dan pemecah-belah!! Apa pembelaan dia?. Ibnu Yunus menyatakan : “Sebelum saya datang, salafiyyin sudah pecah! Kenapa? Karena muammalah kalian (dengan hizbiyyin). Jadi bukan saya yang membuat fitnah, tapi Abu Nida’ yang membuat fitnah. Kenapa dia tidak mau lepas dari Ihya’ut Turats? Kalau Abu Nida’ lepaskan, selesai permasalahan!” (Tentunya dengan ijin Allah -pen).
Semoga Allah menerima taubat orang yang kembali dan semoga Allah mengembalikan orang-orang yang mau kembali kepada Al-Haq. Amin Ya Rabbal ‘alamin.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“…kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang..”(QS Al Baqarah 160)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS Al Baqarah 222)
Benarlah apa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ayyid Asy-Syamari (dalam Turkah Hasan Al-Banna wa Ahammul Waritsin, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Hasan Al-Banna Seorang Teroris, hal.60 pada Bab Yayasan Ihya’ut Turats) : “Hasan Al-Banna adalah penanggung jawab dakwah dan organisasinya (Ihya’ut Turats-pen). Para da’i nya terikat oleh pemimpin dalam satu yayasan. Padahal dakwah yang benar itu diikat dengan ahli ilmu dan bukannya diikat oleh pemimpin yang ada dalam yayasan-yayasan. Yayasan itu memberi manfaat yang besar bila bertujuan menopang dakwah Islamiyyah-Salafiyyah atau membantu fakir miskin dan anak-anak yatim. Sayangnya mereka menjadikan yayasan sebagai hakim (pengatur) bagi para da’i . Bagi yang tidak sependapat dengan aturan yayasan, maka ia harus disingkirkan”.
Allahu Akbar, Allah Maha Besar !! Betapa tepatnya penjelasan Syaikh Ayyid Asy-Syamari dengan kenyataan yang terjadi pada kalian!! Dimana lagi akan kalian sembunyikan topeng wajah hizbiyyahmu ya Abu Nida’, Aunur Rafiq, Yazid Jawaz, Abdurrahman At Tamimi , dan semua bala tentara bayaran hizbiyyin?!
f. Situsnya Ma’had Al-Irsyad berkata: “Adapun pondok Imam Bukhari, benar yang anda katakan (menadah dinar hizbiyyahnya Ihya’ut Turats-pen)
Anak ingusan itupun berkata: “Ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa kalian dalam keadaan sadar sepenuhnya ketika berinteraksi dan berkoalisi dakwah dengan elemen-elemen hizbiyyah sesatnya Ihya’ut Turats!!”
g. Kalian berkata:”… tapi perlu engkau ketahui bantuan itu tanpa ada tekanan atau persyaratan apapun”
Maka anak ingusan lagi bodoh itupun menjawab : ”Harus (dan bukan hanya perlu!) engkau ketahui pula, wahai makhluk yang berubah-ubah warna, bungloniyyun, bahwa ucapanmu itu perlu dilihat dan dicermati. Disana ada makna-makna tersembunyi (baca:disembunyikan). Jawaban yang kalian bold ini merupakan isyarat-isyarat ketakutan yang berusaha disembunyikan. Engkau menghendaki satu hal yakni dinar hizbiyyah, dan kenyataannya tidaklah berhenti sampai diterimanya “dinar hizbiyyah” itu oleh kedua tangan kalian saja! Namun kerusakan dan bencana yang terus meluas, datang silih berganti, kebinasaan itu tiada henti kecuali kalian campakkan lagi “dinar hizbiyyah” tersebut dari tangan kalian dengan hidayah dari Allah !”
Maka dengan “dinar hizbiyyah” itu di tangan kalian, berarti kalian lebih memilih bersaudara dengan Muhammad Ibn Ibrahim al Khalaf As-Sururi yang jelas-jelas punya hubungan istimewa dengan Salman Al-Audah As-Sururi Al Qardhawy Al-Quthbiy Al-Bannawy daripada bersaudara dengan salafiyyin! Berarti, genderang perang telah kalian tabuh melawan barisan dakwah Salafiyyah!!
Bahkan dengan “dinar hizbiyyah” itu di pundak-pundak kalian, berarti kalian lebih memilih berkasih sayang dengan dedengkot ikhwaniyyin-turatsiyyin Abdurrahman Abdul Khaliq – penebar dinar Ihya’ut Turats al Kuwaiti - yang telah menghina Al Imam Muhammad Amin As Syinqithy rahimahullah sebagai “cetakan lama”, “salafy taqlidi”, “mummi yang hidup dengan jasad-jasad mereka di jaman ini, tapi hidup dengan akal-akal dan fatwa-fatwa dimasa lampau”! Berarti pula kalian telah meniupkan ‘terompet peperangan’ melawan barisan dakwah yang dipimpin oleh Syaikh Bin Bazz rahimahullah yang sangat marah dengan hinaan ‘God Father’ kalian itu!!
Apakah kalian akan berkilah kepada Masyayikh: ”… Bukannya kami menentang fatwa para masyayikh, hanya saja kami menerima dinarnya dan menolak pemikirannya”. Tentu saja ini adalah upaya untuk menghancurkan kaidah-kaidah al Wala’ dan al Bara’ fil Islam! Bagaimana bisa berloyalitas kepada sesuatu karena Allah diterapkan secara bersamaan dengan berlepas diri dari sesuatu itu pula karena Allah ? Ketika ada penetapan terhadap sesuatu, maka di situ pula ada penafian dari lawan sesuatu itu! Ketika engkau menetapkan tauhid, maka engkau harus mengingkari syirik! Apakah kecerdasan hizbiyyahmu tidak mampu memahami kenyataan ini?
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang.” (QS Ar Ruum 52).
Ataukah kalian akan lebih “jujur” dengan mengatakan:” Bahwa kami hanya berwala’ kepada dinarnya saja!” Maka betapa sempurnanya kehinaan ini.
Apakah kalian akan berkilah lagi dengan mengatakan:”Abdurrahman Abdul Khaliq telah membuat pernyataan taubatnya dari kesalahannya!”
Maka jawaban atas hal ini kita serahkan kepada Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Muqbil rahimahullah untuk menjawabnya:
“Dinukil dari Syaikh Rabi’, bahwa ketika sampai kepada Dr. Shalih Al-Fauzan surat dari Abdurrahman Abdul Khaliq tentang pembersihan dirinya dan dari perkataan tentangnya, (maka) Beliau (Syaikh Shalih Fauzan-pen) mengirim surat kepadanya (Abdurrahman Abdul Khaliq-pen) dengan puluhan kesalahan yang berhubungan dengan haq para ulama yang muncul dari buku-buku dan kaset-kasetnya. Beliau juga meminta kepadanya untuk menjawab hal itu, namun dia tidak menjawabnya, sekalipun menjawab salam dari surat tersebut! Hal itu menunjukkan atas israrnya pada sebagian besar kesalahannya. Syaikh Rabi’ berkata:”Syaikh Shalih Al-Fauzan menyampaikan hal ini kepadaku secara langsung”(Jama’ah Wahidah, hal.30). Dengan kejadian ini, kita mengetahui apakah kesalahan dia hanya dalam 6 perkara saja ataukah lebih? Dan kapan dia bersedia ruju’ dari kesalahan-kesalahan sisanya?!
Adapun jawaban Syaikh Muqbil:”Buku Abdurrahman Abdul Khaliq banyak mengandung kerancuan, maka saya nasehatkan kepada semua kaum muslimin untuk membaca buku saudara kita Rabi’ bih Hadi Al-Madkhali yang membantah semua pemikiran Abdurrahman Abdul Khaliq, agar tidak disangka dia telah bertaubat melalui Syaikh bin Bazz. Ya, ia telah taubat dalam satu masalah, tetapi dalam masalah-masalah yang lain ia belum menunjukkan taubatnya. Apakah ia telah bertaubat dari memecah-belah ahlussunnah dan fanatik golongan? Apakah ia telah kembali kepada jalan yang baik seperti sewaktu dia masih kuliah di Universitas Madinah? Maka mereka –baik Jama’ah Abdurrahman Abdul Khaliq, Ikhwanul Muslimin ataupun Sururiyyun- adalah seperti orang-orang yang buta sebelah matanya, seperti yang dikatakan penyair,
Orang buta menuntun orang yang melihat adalah “sangat baik”
Sungguh menyesatkan jika orang buta yang engkau mintai petunjuk!” (Tanya Jawab dengan Syaikh Muqbil rahimahullah, hal.88).
Dan harus kalian pahami pula, wahai manusia yang pengkaui merubah warna. Bahwa gembong-gembong organisasi semacam Ihya’ut Turats, Al Sofwah , Al Haramain yang telah sekian lama malang melintang di lembah hitam ‘perhizbiyyahan’ tentu tidak akan bertindak gegabah (amatiran) seperti kalian. Tentu mereka lebih licik, lihai dalam menancapkan sengatnya, jangan sampai ada bukti-bukti syarat hitam di atas putih yang justru dapat digunakan untuk menghancurkan sel-sel dakwah hizbiyyahnya. Sebagai contoh : Al Sofwa Al-Muntada juga pernah membantu mendanai pondok ahlul bid’ah NII – ponpes Ngruki miliknya Abu Bakar Ba’asyir. Kalau ada bukti syarat (apalagi hitam di atas putih), tentu sudah sejak lama Al Sofwa “dikarantina” oleh pemerintah. Dan dengan syarat (tertulis) itu pula kalianpun bisa jadi ikut menerima kado hadiahnya, disekolahkan lagi dengan makan dan minum secara gratis di hotel prodeo! Betapa sekolah itu akan penuh sesak sebab hampir engkau semuanya (para da’i nya) menjadi anggota jaringan Al Sofwa Al-Muntada ini! Ataukah kalian menunggu syarat itu pula dari Al-Haramain ?
Tentu sekarang ini pun kalian telah masuk dalam daftar anggotanya jaringan Usamah bin Ladin Al-Khariji (yang telah masuk dalam daftar teroris yang berhubungan dengan Osama bin Laden yakni yayasan Ihya’ut Turats Al Kuwaiti, Al Haramain Foundation, Hai’ah Ighotsah/IIRO, Imam Samudra (murid Abu Bakar Ba’asyir), Fathurrahman Al Ghozi (idem), Aris Munandar (Ketua Kompak DDII), dll, simak di blacklist www.bankofengland.co.uk) . Wal ‘iyadzubillah.
Betapa sangat berbahayanya selembar syarat bagi muassasah hizbiyyah itu! Masihkah sekarang ini kalian membohongi nuranimu dengan mengharapkan syarat-syarat “khayalan” itu? Ataukah ini salah satu jurus tipu muslihai kalian untuk menjawab pertanyaan anak didik kalian yang mempersoalkan ketidakberesan “koalisi dinar hizbiyyah’” ini?
Justru di sana ada “syarat-syarat yang lebih nyata” daripada “syarat khayalan” kalian itu! Yaitu “syarat konsekuensi”, baik kalian setuju ataupun tidak! Benar bahwa Muhammad Khalaf dan Abdurrahman Abdul Khaliq tidak memberikan “syarat apapun” pada kalian, tetapi begitu kalian terima “dinar hizbiyyahnya” maka sesungguhnya saat itu pula kalian telah menerima dan menengkautangani “syarat konsekuensinya” dari kedua penjahat itu baik kalian setuju ataupun tidak dan syarat ini tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun ! Syarat itu telah menyatu pada “dinar hizbiyyahnya” sebagaimana dua sisi mata uang!
Engkau minum air gula
Tetapi engkau tidak mau rasa manisnya,
Ya minum saja air tawar
Apakah sama antara air gula dengan air tawar,
walaupun keduanya sama-sama air?
Engkau makan “dinar hizbiyyah”
Tetapi engkau tidak mau konsekuensinya,
Ya nikmati saja “dinar biasa”!!
Apakah sama antara “dinar hizbiyyah” dengan “dinar biasa”,
Walaupun keduanya sama-sama dinar?!
Yang kalian terima itu
Bukan semata-mata “dinar biasa” tetapi “dinar hizbiyyah”,
Pahamkah kalian ya hizbi?
Begitu kalian terima “dinar hizbiyyah” itu, maka disaat itu pula kalian telah memisahkan diri dari barisan dakwah salafiyyin! Kalian secara otomatis telah mengibarkan tinggi-tinggi panji-panji “dinar hizbiyyah” ikhwaniyyin-turatsiyyin dan berperang melawan panji dakwah salafiyyin! Inipun adalah bukti adanya “syarat nyata” dari muassasah hizbiyyah tersebut, artinya (seolah-olah ada kalimat yang dibuang ) kata mereka (muassasah hizbiyyah):”TST , tahu sama tahulah, masak kagak paham sih dengan kemauan kite-kite ini?”, begitu kata orang dengan logat Betawinya.
Dan diamnya kalian dari kesesatan gembong-gembong hizbiyyin dan jaringan hizbiyyah lainnya adalah bukti lain adanya “syarat nyata” dari mereka, sehingga seolah-olah ada kalimat tersembunyi (dari muassasah hizbiyyah) yang terekam di pikiran kalian : ”Lu jangan coba-coba ngebongkar kesesatan kite-kite, kalo elu-elu kagak pengen nih ‘doku dinar hizbiyyah’ pindah ke laen tempat!” Demikian ujar orang berlogat Betawi kental.
Apakah kalian akan berkilah lagi:”Kami tetap tegas kok kepada hizbiyyin”
Duhai, apakah kami - anak ingusan ini - yang telah tuli sehingga tidak pernah mendengar suara yang merdu itu? Ataukah kalian sendiri yang telah menutup mata dari kenyataan ini? Betapa kami belum pernah mendengar kalian menjelaskan kepada ummat peringatan sekian banyak para masyayikh terhadap bahaya dan kesesatan muassasah hizbiyyah, dedengkot-dedengkotnya serta balatentara bayarannya. Kenapa? Karena secara otomatis kalian juga mentahdzir diri kalian sendiri! Alangkah seru dan hebohnya, peperangan internal kelompok engkau itu.
Atau di majelis-majelis dan internet kalian yang banyak itu, misal dengan menyatakan: “Betapa Al Sofwa memiliki keterkaitan dengan dedengkot sururiyyin, betapa Ihya’ut Turats adalah yayasan yang sangat berbahaya karena telah memecah belah ummat di berbagai belahan dunia, betapa Al-Haramain adalah yayasan berbahaya yang –walhamdulillah- telah dikaitkan (oleh pemerintah Saudi) dengan jaringannya Usamah bin Laden Al-Khariji”. Namun ironisnya, disaat yang sama kalian terlihat menengadahkan kedua tangan menerima segepok “dinar hizbiyyah”, membuka lebar akal kalian menerima manhaj sururiyyun, dari pihak-pihak yang telah kalian bongkar bahaya kesesatannya terhadap ummat itu! Kalau ini terjadi, bukankah cukup pantas jika kalian didaftarkan ke MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai pemecah rekor manusia yang paling tidak punya rasa malu dan manusia yang paling merendahkan kehormatan dirinya? Dan dapat digelari sebagai ‘double identity man of the era’, sebab betapa “langkanya” kepribadian gengkau yang kalian miliki ini.
Dimana engkau simpan kecerdasan itu, ya hizbiyyin-ikhwaniyyin!
Bukankah diterimanya “dinar hizbiyyah” ini oleh kedua tangan dan kaki kalian telah lebih dari cukup sebagai bukti atas tidak tegasnya kalian terhadap organisasi hizbiyyah dan gembong-gembongnya?! Mau lebih jelas? Bukankah ditelannya “dinar hizbiyyah” ini oleh kalian ditambah lagi bonus kilah, “Tapi perlu engkau ketahui dst…”, adalah bukti yang “melimpah ruah”, betapa kalian ini tidak lebih dari komplotan “lelaki pengecut” yang mengingkari “kepengecutannya”? Bahkan “saking hizbynya” komplotan ini, walhamdulillah, dengan ijin Allah dapat kita bongkar dengan mudah topeng hizbinya hanya dengan 1 pertanyaan dan 1 jawaban!
Tanya: Kalian mampu bersikap tegas dan keras terhadap salafiyyin, mengapa sikap itu berganti akrab dan mesra jika berhadapan dengan hizbiyyin-ikhwaniyyin?
Jawab: Akibat pergaulan bebas, terjadilah perselingkuhan hizbiyyah-ikhwaniyyah sesama hizbiyyin-ikhwaniyyin!
Benar, ceramahmu di Markaz Al-Albani ini adalah puncak makar, klimaks dari berbagai kedustaan dan pengkhianatan dalam upaya penghancuran salafiyyin Indonesia dengan meminjam tangan para masyayikh salafiyyinnya ! Benar-benar suatu kejahatan dan kekejian yang tiada tara ! Lalu dimana sikap jantan dan gagah perkasa dari barisan orang-orang yang tinggi kekar ini, sampaipun menghadapi anak ingusan lagi bodoh saja harus mengeluarkan jurus tipu muslihai “si kancil mencuri mentimun”? Wahai Yazid Jawwas, dimana kegagahanmu? Dulu, engkau adalah orang yang sangat disayangi oleh anak ingusan ini karena ketegasan dan kekokohan hujjahmu, kenapa jadi “mandul” begini hanya lantaran “dinar hizbiyyah”? Sungguh, kami percaya bahwa hati nuranimu sama sekali tidak bisa dibohongi dari semua kepura-puraan ini, kedustaan demi kedustaan dari barisan para pendusta!!
Dulu kalian berbaris bersama Syarif Hazza’, si pendusta dan mubtadi’ agen Jum’iyyah Ihya’ut Turats itu ! Bahkan dia membela Abdurrahman Abdul Khaliq dan dia hinakan pula Syaikh Al-Albani bersama murid-muridnya. Setelah dibongkar kedok hizbiyah-Quthbiyyahnya oleh masyayikh Madinah dengan corengan hitam pada mukanya, diapun pulang dengan membawa sekeranjang kehinaan ! Dan rupanya ilmu dustanya telah kalian warisi bahkan dengan metamorfosis yang lebih sempurna ! Secepat itu pula kalian dengan manhaj tamyi’ engkau, ya bungloniyyun ganti berlindung di belakang murid-murid Syaikh Al-Albani yang sebelumnya telah dilecehkan oleh guru kalian!!
Ya Dzulwajhain, wahai orang yang berdua muka ! Tidak berhenti disini, kalian sudah di belakang Syaikh Ali Hasan al Halabi, namun masih juga kalian bermain mata-berkomplot-bersama hizbiyyin-ikhwaniyyin lainnya! Tahun ini mengundang gembong sururi, tahun berikutnya menghadirkan Syaikh Ali ! Tahun depan ikut daurah hizbi dan tahun berikutnya mendatangkan murid-murid Syaikh Al-Albani !
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS Al Baqarah 15)
“Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS Al A’raf 186)
Maka tahulah anak ingusan ini. , siapa yang kalian maksud “kebanyakan mereka beraqidah salafiyyah hanya saja bermanhaj Ikhwani yang menyimpang“. Ternyata kalian sendiri!! Betapa baru kali ini terjadi seseorang mentahdzir dirinya sendiri dan komplotannya sendiri ! Aneh bukan ? Tetapi berapa banyak kelakuan-kelakuan aneh dari orang-orang aneh yang pernah kita jumpai? Hanya saja pernyataanmu itu oleh anak ingusan ini dibetulkan “sedikit” yaitu:“kebanyakan mereka MENGAKU berakidah Salafiyyah padahal KENYATAANNYA bermanhaj ikhwani yang menyimpang !“ Sehingga ceramahmu yang berbunyi : “Banyak manusia telah mendapatkan manfaat dari mereka. Dauroh telah berlangsung 3 tahun!” Maka nyata-nyata ini adalah ucapan yang tidak ada kenyataannya ! Tidak ada hasil apapun dari peringatan Syaikh Ali tentang bahayanya hizbiyyah! Ini semata ucapan dusta dari Abdurrahman At Tamimi Al-Kadzab ! Betapa teman-teman kalian yang hadir bersama pada daurah hizbiyyah dari kalangan “anggota resmi” organisasi hizbiyyah tertawa membaca skenario ceramahmu itu wahai Abdurrahman ! Tanyakan kepada temanmu Mudzakir Arif (gembong Ikhwani dari Jakarta) dan teman-temannya ! Jangan pura-pura lagi kalian tidak mengenalnya!! Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Akhirnya…ditenggelamkan oleh perahu!
Betapa buruknya akhlak kalian terhadap masyayikh salafiyyin ya Bungloniyyun ! Dulu kalian selalu menyatakan : “Itu khan fatwa Syaikh Rabi’ bin Hadi yang menyatakan tidak bolehnya bermuammalah dengan hizbiyyah, adapun Syaikh Ali mengatakan ambillah asal tanpa syarat ”. Dan terakhir setelah Syaikh Ali mendapatkan informasi tentang kerusakan-kerusakan besar akibat muammalah hizbiyyah tersebut pada diri-diri kalian, maka Beliau memberikan syarat-syarat (yang tidak bisa kalian penuhi, kapanpun !) jika bermuammalah dengan hizbiyyah. Apa jawaban saudaramu Aunur Rofiq ? “ Itu khan Syaikh Ali yang berfatwa, kita tidak taqlid kepada Syaikh Ali !” Licik bukan ?
Bukankah ini malapetaka akibat dari muammalah hizbiyyah kalian ya hizbiyyin ? Dampak buruk dari pergaulan bebas kalian !! Kalau saja bukan karena manisnya “dinar hizbiyyah”, tentu sejak dulu kalian sudah berlepas diri. Demi dinar Kuwait kalian rela berhadapan dengan fatwa puluhan masyayikh tentang hizbi dan sesatnya Abdurrahman Abdul Khaliq-Ihya’ut Turats dengan jaringannya. Betapa sulitnya tidur tanpa beralaskan Abdurrahman Abdul Khaliq, beratapkan Abdurrahman Abdul Khaliq dan berpakaian Abdurrahman Abdul Khaliq. Naudzubillah minal Abdurrahman Abdul Khaliq At-Turatsi Al-Ikhwani.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa 115)
Kita lanjutkan lagi :…
(Ditulis oleh Al Akh Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji, Malang, dikirim via email dengan koreksi dan tambahan dari redaksi)
sumber: www.salafy.or.id
_______________________-
Dari panjangnya tulisan tersebut, pembaca yang tertarik mengikuti sambungannya, kami persilahkan saja membaca di blog turotsi.wordpress yang memuat lengkap tulisan diatas.
* Membongkar kedustaan Abdurahman At Tamimi Al Kadzab (I)
* Membongkar kedustaan Abdurahman At Tamimi Al Kadzab (II)
* Membongkar kedustaan Abdurrahman At Tamimy Al Kadzab (III)
* Membongkar kedustaan Abdurrahman At Tamimy Al Kadzab (IV)
DIarsipkan di bawah: Salafy vs Salafy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar